Pengusaha Kulit Gulung Tikar

Monday, 11 Mar 2013 | 10:02:24 WIB

Terkait

Gara-gara Impor Sapi Dibatasi, Bahan Baku Jadi Langka
KOTA, (KP).- Menyusul ikeluarkannya kebijakan pemerintah yang membatasi impor sapi, para pengusaha kulit di kawasan Sukaregang, Kecamatan Garut Kota pun mengeluh. Hal ini disebabkan sulitnya mereka untuk mendapatkan bahan baku untuk produk kerajinan kulitnya hingga mereka merasa dirugikan.
Dari pantaun "KP", akhir-akhir ini tak sedikit pengusaha kulit berskala kecil di kawasan Sukaregang yang terpaksa menurunkan produksinya. Padahal saat ini permintaan pasar sedang cukup bagus. Langkah ini terpaksa mereka lakukan akibat sulitnya mereka mendapatkan bahan baku, pasca turunnya kebijakan pemerintah yang membatasi impor sapi.
"Permintaan pasar terhadap kerajinan kulit saat ini tengah meningkat. Namun sayang produksi kami justru malah menurun akhir-akhir ini gara-gara impor sapi dibatasi. Akibatnya, kami kesulitan mendapatkan bahan baku berupa kulit sapi,” ujar salah seorang pengusaha kulit di Sukaregang, Firwan Setiawan (38).
Menurut Firwan, ketersediaan bahan baku kulit tidak terlepas atau sangat tergantung pada tingkat kebutuhan daging. Saat permintaan daging meningkat dan diikuti dengan adanya penutupan kebutuhan pasar, maka bahan baku kulit pasti berlimpah.
“Saat ini pun sebenarnya permintaan daging sedang tinggi namun sayang tidak bisa ditutupi sepenuhnya akibat pembatasan impor sapi. Kebijakan itu tentu saja sangat berdampak pada industri yang menggunakan bahan baku kulit sapi seperti para pengrajin kulit di kawasan Sukaregang,” katanya.
Diakuinya, akibat sulitnya pasokan bahan baku, saat ini hampir 50 persen pengusaha kulit berskala kecil di kawasan Sukaregang, baik penyamak kulit maupun pengusaha kuliner terpaksa gulung tikar. Selain sulit mendapatkan bahan baku, para pengusaha juga kesulitan akibat harga bahan baku yang kian hari kian mahal karena jarang.
"Setelah ada kebijakan pemerintah itu, kian hari bahan baku kian sulit didapatkan. Selain itu harganya pun terus melambung sehingga tak heran kalau saat ini banyak pengusaha yang gulung tikar," imbuh Firwan.
Dikatakannya, sebelumnya harga bahan baku kering untuk produksi dorokdok dan kerupuk kulit berkisar antara Rp 29 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram. Namun saat ini harganya melonjak hingga mencapai Rp 35 per kilogram. Sedangkan untuk bahan baku kulit basah yang dibeli langsung dari jagal harganya kini sudh mencapai Rp 26 ribu per kilogram, padahal sebelumnya hanya Rp 16 ribu.
Kenaikan harga dipastikan akan terus terjadi seiring kian sulitnya mendapatkan bahan baku.
Masih menurutnya, sejak pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan impor sapi, pasokan bahan baku sudah mengalami pengurangan hingga sekitar 50 persen sampai 60 persenan. Akibatnya banyak diantara pengusaha yang tidak kebagian pasokan bahan baku sehingga terpaksa berhenti berproduksi.
Pada saat pasokan bahan baku masih normal, tuturnya, dirinya sanggup menghabiskan bahan baku untuk pembuatan kerupuk kulit dan dorokdok hingga 5 kwintal per minggu. Namun saat ini hanya bisa menghabiskan bahan baku sekitar 1 kwintal per minggu.
Penurunan produksi ini diakuinya, tentu saja membuat para pengusaha kecil menelan kerugian yang tidak sedikit. Di sisi lain mereka tidak berani menaikan harga karena khawatir kehilangan konsumen. Harga kerupuk kulit sendiri hingga kini masih bertahan di kisaran Rp 120 ribu per kilogram, sedangkan dorokdok dijual Rp 100 ribu per kilogram.
Tidak hanya para pengusah kuliner yang menggunakan bahan baku dari kulit sapi yang merasa dirugikan akibat adanya pembatsan impor sapi oleh pemerintah itu. Nasib serupa juga dialami para pengusaha pengarajin kulit seperti para penyamak kulit atau pengusha industri kulit untuk bahan baku fashion seperti sepatu, jaket, topi, tas serta yang lainnya.
Tidak sedikit diantara mereka yang juga terpaksa menurunkan jumlah produksinya akibat kesulitan bahan baku serta mahalnya harga bahan baku. Tak sedikit pula diantara mereka yang untuk sementara berhenti berproduksi untuk menunggu hingga pasokan bahan baku dan haraganya kembali normal.
Salah seorang penyamak kulit, Fajar (25) menyebutkan, pada saat normal dirinya bisa menghabiskan bahan baku sekitar 3 ton dalam kurun waktu satu bulan. Namun untuk situasi seperti sekarang ini, dia hanya bisa menghabiskan 5 kwintal - 1 ton per bulannya.
Para pengusaha kulit di Sukaregang ini berharap agar pemerintah lebih meningkatkan bea ekspor kulit mentah agar jumlah ekspor kulit menurun. Dengan langkah tersebut diharapkan pasokan bahan baku kulit bisa dialihkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri terutama para pengusaha kecil.
Dengan kata lain, pemerintah sebaiknya lebih mementingkan keamanan stok untuk memenuhi kebutuhan para pengusaha dalam negeri sebelum menjual kulit mentah ke luar negeri yang hanya menguntungkan pihak luar.
Mereka juga meminta pemerintah lebih memperhatikan pengusaha kecil yang nasibnya kian terjepit. Kenyataan saat ini, para pengusaha kecil sama sekali tidak dilirik meski hanya sebelah mata. E-22/E-44***

Author : M. Romli Dibaca : 309 kali
Sent using Telkomsel Mobile Internet Service powered by
Belom ada komentar pada artikel ini Kirim Komentar Anda

Kirim Komentar Anda



Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.