Ustadz Selebritis

Thursday, 29 Nov 2012 | 09:01:47 WIB

Terkait

Zulkarnain Finaldi
Wartawan
HU. Kabar Priangan

Pesatnya teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah segala sendi-sendi kehidupan. Di tangan media massa, sosok ulama yang
biasanya hanya bergaul dengan para santri, kitab-kitab agama, dan hidup dari pengajian-pengajian, "disulap" menjadi kehidupan yang menyilaukan mata duniawi. Dalam sebuah pelajaran di dalam kelas, seorang guru SD menyuruh muridnya menulisĀ­kan cita-cita mereka di kertas selembar. Para murid pun kemudian menuliskan cita-cita mereka di selembar kertas, lalu dikumpulkan kepada guru. Selanjutnya, satu persatu murid tersebut ditanya, apa alasan mereka menginginkan cita-cita tersebut.
Namanya juga anak SD, ada yang bercita-cita ingin jadi dokter karena ayahnya selalu sakit. Ada juga yang ingin jadi artis seperti Mulan Jameela karena cantik, banyak uang, dan terkenal, dan ada pula yang ingin jadi ustadz seperti ustadz-ustadz yang sering muncul di televisi karena diidolakan dan dikagumi banyak orang.
Obsesi yang dilontarkan anak-anak SD ini memang terlihat masih polos dan lugu. Mereka mengungkapkan keinginannya dengan cara pikir yang sederhana dan apa adanya. Karena memang itulah anak-anak, masih polos dan sederhana.
Namun bukan soal cita-cita para anak SD yang akan dibahas dalam tulisan ini, melainkan fenomena baru di kehidupan kita yang kemudian membuat siapa saja tertarik, termasuk anak-anak, yaitu Ustadz Selebritis.
Lontaran anak-anak SD yang ingin menjadi seorang ustadz selebritis, seperti ustadz-ustadz yang sering dijumpai di televisi ini cukup menarik perhatian. Dan ini juga tentunya sangat mengagetkan karena ternyata fenomena ustadz selebritis ini telah menjadi perhatian anak pula.
Namun memang, sangat wajar jika ada anak yang mengidolakan bahkan sampai bercita-cita ingin menjadi ustadz-ustadz muda yang sering muncul di televisi. Betapa tidak, mereka muda, diidolakan banyak orang, sering muncul di televisi dengan gaya hidup yang memang menyilaukan mata.
Memang, pesatnya teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah segala sendi-sendi kehidupan. Di tangan media massa, sosok ulama yang biasanya hanya bergaul dengan para santri, kitab-kitab agama, dan hidup dari pengajian-pengajian, "disulap" menjadi kehidupan yang menyilaukan mata duniawi.
Apalagi kehadiran ustadz-ustadz muda di berbagai stasiun televisi ini tak hanya hadir dalam program acara yang bersifat ceramah saja, tetapi sudah masuk ke berbagai acara. Bahkan sudah bukan hal aneh lagi, infotainment pun menamĀ­pilkan kehidupan pribadi para ustadz-ustadz muda ini dengan sisi kemewahan dan keglamorannya.
Jadi, wajar bila kemudian hal ini membuat siapapun tergiur dengan kondisi seperti ini, termasuk anak-anak kita. Mereka pun terobsesi menjadi seorang ustadz selebritis, layaknya ustadz-ustadz yang sering mereka jumpai di layar kaca.
Padahal Allah telah mengingatkan kepada kita agar berhati-hati dalam menentukan tujuan kita dalam mencari ilmu. Dalam hadits Imam Abu Dawud, Rasulullah bersabda; Barang siapa yang menuntut ilmu yang mestinya untuk mencari ridlo Allah, tetapi dia menuntutnya untuk mencari keuntungan duniawi (materi), maka dia kelak tidak akan dapat mencium bau nikmat surga. (HR Imam Abu Dawud).
Dalam hadits itu kita diingatkan bahwa dalam mencari ilmu itu apabila niatnya untuk mencari popularitas, mencari kebanggaan, dan mendapat simpati banyak orang, maka sebenarnya kita telah menghancurkan agama kita sendiri.
Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah disebutkan; Barangsiapa menuntut ilmu supaya dapat menyaingi para cendekiawan, supaya dihormati dan untuk menarik simpati orang banyak, maka dia akan dicampakkan oleh Allah ke dalam neraka jahanam.
Sebaliknya, bagi mereka yang mencari ilmu dengan tujuannya untuk mencari petunjuk dan ridlo Allah, maka Allah akan memudahkan jalan orang tersebut ke surga dan para malaikat dengan senang akan membeberkan sayapnya untuk diinjaknya.

Kisah Imam Ghazali
Kisah tentang perjalanan hidup Imam Ghazali mungkin bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita agar kita tetap istiqamah dalam mencari ilmu dan dalam mengamalkan ilmu tersebut untuk kemaslahatan umat.
Di usianya yang masih 34 tahun, Imam Ghazali telah diangkat menjadi guru besar di Universitas Annidlomiyyah, Baghdad. Beliau sangat dikagumi oleh kalangan ulama dan para mahasiswanya karena kupasan-kupasan ilmunya sangat kritis dan mendalam.
Penghormatan yang mereka berikan melebihi penghormatan terhadap para pejabat dan penguasa, bahkan keluarga istana. Kedudukan Imam Ghazali saat itu telah mencapai kedudukan tertinggi yang belum pernah dicapai oleh seorang ulama seusianya sebelum itu.
Tetapi kedudukannya yang tinggi itu, justru membuatnya ingin meninggalkan kemewahan duniawi tersebut. Beliau kemudian pergi ke mekah untuk menunaikan ibadah haji, lalu seusai itu menuju Kota Syam dan tinggal sementara di Baitul Maqdis. Selanjutnya, Al-Ghazali pergi ke Damaskus untuk ber'uzlah di sebuah zawwiyah di dalam masjid Al-Umawi.
Kisah Imam Ghazali ini tentu bisa menjadi hikmah dan inspirasi bagi kita sebagai umat muslim bahwa dalam mencari ilmu itu bukan untuk mengejar popularitas dan kemewahan dunia, melainkan untuk mencari ridlo Allah.
Seperti yang diserukan oleh Allah bahwa hakekat penciptaan manusia di muka bumi ini adalah untuk beribadah kepada Allah.***

Author : Nunu Nazarudin Azhar Dibaca : 238 kali
Sent using Telkomsel Mobile Internet Service powered by
Belom ada komentar pada artikel ini Kirim Komentar Anda

Kirim Komentar Anda



Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.