Menyusuri Komunitas Lesbi di Kota Santri (5)

Friday, 23 Nov 2012 | 08:15:49 WIB

Terkait

Uang Hasil Menemani Tamu
Dipakai untuk Makan dan Bayar Kos

Laporan : Ema Rohima/”KP”

Dalam episode sebe­lumnya, dikisahkan tentang RH yang nekad keluar dari keluarganya demi mengejar kasih sayang dari pasangan sejenisnya. Un­tuk menyambung hidup, RH terpaksa mencari uang dengan menjadi seorang pemandu lagu.
Namun selain RH, salah se­orang lesbian yang ber­peran sebagai “Femme” juga terpaksa melakukan hal serupa. Wanita yang na­manya minta dirahasiakan ini, tanpa ragu men­ceritakan keterpaksaannya menjadi pemandu lagu un­tuk menyambung hi­dup.
Wanita belia ini mengaku, untuk melakukan tran­saksi dengan penikmat lagu di tempat hiburan, ada dua cara yang dilaku­kan. Bisa melalui peng­hubung yang dilakukan seniornya, bisa juga mencari sendiri. "Kalau ada yang membutuhkan pemandu lagu dengan bayaran tinggi, saya mau," ujarnya.
Banyak yang biasa menjadi penghubung antara mereka dan para pelanggan. Para penghubung itu tak lain adalah teman de­kat yang selama ini masih dalam komunitas lesbian untuk mencarikan konsu­mennya. Penghubung ter­sebut berusia lebih tua dan merupakan seniornya. "Ka­lau yang jadi perantara biasanya senior dan sudah terbiasa di tempat hiburan," ucapnya.
Dia mengaku tidak mengenali tamu-tamunya. Dia hanya sebatas berada di room dan tidak melanjutkan hubungan, baik secara langsung maupun komunikasi, terkecuali seijin pasangannya. Karena ka­lau ketahuan, pasangannya akan marah besar dan tak segan menyiksanya.
"Saya melakukannya ha­nya sebatas menemani di room, tidak ada transaksi lain­nya. Tapi ada juga teman yang bisa diajak transaksi," lirihnya.
Siapa saja yang mela­kukannya? Sebagian besar komunitas lesbian mela­kukannya, khususnya yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Adapun konsumennya adalah kalangan pegawai dan ada juga anak ku­liahan. “Rata-rata konsumen kami itu sudah ber­keluarga dan tidak mengetahui kehidupan kami yang sebenarnya sebagai lesbian,” kata dia.
Tidak hanya menemani nyanyi, mereka juga ka­dang diajak untuk menemani minum-minum. Jika tamu yang rese maunya ditemanin sambil pegang-pegang. Di tempat seperti ini, karaoke tidak lagi menjadi ajang menyanyi yang murni.
Dengan suara fals pun, setiap wanita bisa menjadi "pemandu" setiap tamu yang datang. Meski bukan syarat, asal bisa bergoyang dan pegang-pegang menjadi pertimbangan utama.
"Biasanya setiap tamu yang saya temani, jika su­dah banyak minum, pasti meraba-raba dan juga ingin diraba. Kalu untuk bercinta, saya tidak berani. Kalau ketahuan, saya bisa perang besar dengan pasangan," kata wanita ini.
Tarif yang dikenakan pun beragam. Biasanya hasilnya digunakan rame-rame, un­tuk makan, beli baju, dan bayar tempat kos. “Ka­lau ada lebihnya lagi, digunakan untuk minum-minum,” katanya.
Disaat tidak ada job, pernah suatu waktu dia menelpon seseorang yang pernah ditemanin di room untuk meminta uang. Ternyata, diberikan uang dengan cara di transfer Rp 1,5 juta. Sayang, uang kiriman itu langsung diambil pacarnya dan lebih banyak digunakan senior-seniornya.
Meski begitu, dia tidak juga berhenti dan meninggalkan dari percintaan yang tidak wajar itu. Dia berdalih alasan cinta lah yang membuatnya terus bertahan dan menjadi seperti itu. Saat ditanya sampai ka­pan akan menjalani hu­bungan sejenis dan melanjutkan sekolah, dia tidak menjawabnya.
Yang jelas, saat ini dirinya mulai menyukai lelaki. Namun, saat ini be­lum bisa untuk berpa­caran dengan lelaki. Semoga saja, kedepannya bisa sembuh dan normal kembali seperti kisah percintaan pada umumnya.
"Yang lebih penting saya bisa kembali sekolah, untuk menggapai cita-cita," ungkap­nya.***

Author : Zulkarnain Finaldi Dibaca : 445 kali
Sent using Telkomsel Mobile Internet Service powered by
Belom ada komentar pada artikel ini Kirim Komentar Anda

Kirim Komentar Anda



Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.