Di Kanada, Bekas Gereja Boleh Dijadikan Masjid

Monday, 19 Nov 2012 | 09:30:58 WIB

Terkait

CIAMIS, (KP)
Umat muslim di Kanada jumlahnya ternyata sangat minim. Dari seluruh warga negara Kanada yang berjumlah 32 juta jiwa, jumlah umat muslimnya ternyata hanya 2 persen saja. Bahkan jika dibandingkan dengan warga yang atheis, ternyata kalah jauh.
Di negara yang bersuku asli Indian ini, jumlah warga yang tak beragama justru mencapai 16,2 persen. Sedangkan yang menjadi mayoritas adalah warga yang beragama Katolik dengan jumlah 43,2 persen.
Fakta ini menyebabkan umat muslim di Kanada sebagai minoritas. Kendati demikian, kebebasan dan toleransi beragama di negara ini benar-benar dijunjung tinggi. Perbedaan agama tak menimbulkan permasalahan yang krusial diantara masing-masing pemeluk agama yang berbeda.
Hal ini diungkapkan oleh Christopher Allen Woodrich saat menjadi pembicara dalam Studium General yang digelar Fakultas Pasca Sarjana Institut Agama Islam Darussalam (IAID), Minggu (18/11) kemarin. Christopher Allen didatangkan untuk menjadi pembicara guna meningkatkan pemahaman toleransi antara umat beragama di belahan dunia barat.
Dihadapan 140 mahasiswa Pasca Sarjana, Christopher membeberkan suka duka menjadi minoritas kaum muslim di kanada yang bersuku asli Indian.
“Meski termasuk minoritas, namun toleransi antar umat beragama tidak memunculkan masalah krusial. Karena pemerintahannya membebaskan penduduk untuk memilih agama seperti yang tercantum dalam UU Dasar Kanada,” ujar Chris yang kini tengah mendalami Sastra Indonesia di Universitas Gajah Mada.
Bahkan, kata Chris, masjid di kanada banyak menggunakan bekas gereja yang sudah tidak digunakan lagi. Masyarakat membolehkan bekas gereja yang sudah tidak aktif lagi untuk digunakan sebagai masjid, baik dengan cara di beli atau disewa.
“Kanada lebih menekankan multikulturalisme dan secara hukum, hak muslim sama dengan hak non muslim. Seperti di supermarket disedikan daging halal yang dibungkus secara khusus untuk kaum muslimin,” ujarnya.
Meski demikian ada keterbatasan pelaksanaan syariat islam, diantaranya perempuan yang akan difoto untuk kartu identitas harus dibuka jilbabnya. Dengan alasan untuk kepentingan investigasi jika muslimah tersebut hilang.
Kebebasan politik dan beragama di kanada yang berbeda dengan negara barat lainnya, kata chris, menjadi salah satu faktor kaum muslim untuk bermigrasi, kususnya dari Timur Tengah yang tengah mengalami guncangan politik dan peperangan. “Saat ini perkembangan kaum muslimin di Kanada cukup pesat, karena toleransi dan kebebasan dalam beragama yang diterapkan pemerintah,” ujarnya.
Sementara itu Rektor IAID Ciamis KH. Fadlil Munawwar Manshur mengatakan, mengetahui kehidupan sebenarnya kaum muslim di negara barat sangat penting. “Sehingga wawasan mahasiswa bisa terbuka dan tidak menimbulkan fanatisme buta terhadap sistem pemerintahan di barat, khususnya masalah kehidupan beragama,” katanya. E-35***

Author : Zulkarnain Finaldi Dibaca : 440 kali
Sent using Telkomsel Mobile Internet Service powered by
Belom ada komentar pada artikel ini Kirim Komentar Anda

Kirim Komentar Anda



Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.