TFH Dukung Syarif - Otong

Friday, 13 Jan 2012 | 10:17:29 WIB

Terkait

TASIK, (KP).-
Silaturahmi mantan Pengurus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Tasikmalaya era 1997-2009 memutuskan nama Otong Koswara sebagai calon pendamping untuk H. Syarif Hidayat dalam Pilkada 2012.
Keputusan itu diambil setelah melihat, mengamati, dan mengkaji perkembangan peta politik di Kota Tasikmalaya saat ini yang mengunggulkan H. Syarif Hidayat sebagai kandidat pemenang Pilkada mendatang.
"Dukungan ke Otong ini sudah final sebagai kajian dari para mantan senior PPP, bahwa kami mendukung H. Syarif jika wakilnya Otong Koswara," kata mantan Sekretaris PPP era 97, Didin Badrudin saat silaturahmi yang digelar di Saung SS, Jl. RE Marthadinata, Kamis (12/1) kemarin.
Dalam pertemuan itu tampak hadir mantan orang nomor satu di PPP Tasikmalaya yang juga mantan Bupati Tasikmalaya dua periode, H. Tatang Farhanul Hakim, mantan fungsionaris PPP lainnya seperti Dedi SE Romli, Pepen Ruspendi, Yeyen Munawar, Lucky Triana, Ace Saca GMPI, Didin Badrudin, dan beberapa mantan pengurus PPP lainnya.
Tatang Farhanul Hakim yang akrab disapa TFH yang didaulat untuk membeberkan peta politik Pilkada Kota Tasik 2012 mengaku antusias atas aspirasi para mantan pengurus PPP itu yang menyatakan dukungannya kepada H. Syarif Hidayat sekaligus merekomendasikan Drs. Otong Koswara sebagai pendampingnya.
"Semua yang disini sejalan dengan saya yang Pro-Syarif, apalagi saya sendiri mengemban amanat dari DPP PAN untuk mengawal kemenangan H. Syarif di Pilkada 2012," kata mantan politisi PPP yang hijrah ke PAN ini.
TFH menjelaskan, sampai saat ini hasil survei dan peta politik yang ada, Syarif Hidayat memang masih paling kuat. "Nah, kader PPP yang disini itu ingin mempertahankan ke PPP annya seperti pengalaman Pilkada 2007 lalu yang menyelipkan H. Dede Sudrajat di Pak Syarif," katanya.
Dia melanjutkan, karena H. Dede dan H. Budi tetap "keukeuh" ingin maju di Pilkada sebagai calon Wali Kota, maka strategi terdahulu (Pilkada 2007-red) dikita pakai kembali dengan memasukan Otong Koswara yang juga kader PPP ke Pak Syarif.
"Sebetulnya Budi Budiman dan Dede Sudrajat pun sudah ditawarkan. Tetapi keduanya tetap ingin maju sebagai calon Wali Kota. Nah setelah itu, baru muncul Otong sebagai alternatifnya," ungkap TFH.
TFH juga tak memungkiri bahwa dirinya sedang diamanati PAN untuk mempertahankan kemenangan H. Syarif, meskipun mempertahankan itu lebih berat dari pada merebut. "Tapi, diharapkan kebersamaan dulu dilanjutkan kembali, dengan menyandingkan Otong ke Syarif seperti Syarif dengan Dede pada Pilkada 2007 lalu," ucapnya.
Disinggung peluang kemenangan Syarif - Otong Koswara , TFH menyatakan bahwa keyakinan itu ada di Allah."Kami berupaya saja karena kalkulasi politik PPP di Kota Tasik dan Kabupaten Tasik itu berbeda. Kalau di Kota Tasik cuma 8 kursi, sementara di Kab. Tasik jadi single mayority dengan 14 kursi. Makanya, strategi untuk Kota Tasik itu, kader PPP lainnya harus diselipkan di Pak Syarif," ujarnya.

Pro kontra
Soal pro kontra yang bisa ditimbulkan akibat paket Syarif - Otong ini, TFH menganggap bahwa perbedaan pandangan dalam politik itu merupakan hal yang wajar. TFH pun menegaskan bahwa Otong Koswara adalah juniornya sejak Otong berada di PAC PPP tahun 1999 lalu.
"Kalau ingin menang, jangan mendahulukan egoisme ambisi pribadi, tetapi harus mengikuti peta politik yang berkembang. Karena PPP Kota bukan partai pemenang mutlak, berbeda dengan PPP Kabupaten," pesannya.
Sementara itu, saat KP meminta komentar pengusungan Otong Koswara pada Ketua Tim Desk Pilkada PPP yang juga Sekretaris Tim Koalisi Masyarakat Madani, Agus Wahyudin menyatakan bahwa ia tidak bisa berkomentar apa-apa tentang sikap para seniornya itu.
"No Coment saja" ucap Agus. E-48***

Author : Enjang Sobarudin Dibaca : 342 kali
Sent using Telkomsel Mobile Internet Service powered by
Belom ada komentar pada artikel ini Kirim Komentar Anda

Kirim Komentar Anda



Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.