Dari Sudut Agama, Ngadu Bagong Hukumnya Haram

Friday, 06 Jan 2012 | 13:11:01 WIB

Permainan Adu Bagong (3)

BAGI orang yang belum pernah melihat secara langsung jalannya ngadu bagong, pasti beranggapan bahwa permainan tersebut mirip dengan ngadu domba. Padahal di lapangan tidak demikian.
Pertandingan adu kekuatan hewan, memang telah lama dikenal di Garut khususnya, dan pada umumnya di Indonesia, seperti karapan sapi, adu domba, sabung ayam dan adu-aduan hewan sejenisnya. Pertunjukan semacam ini, biasanya memang memperlombakan hewan sejenis.
Namun di beberapa daerah di Jawa Barat, seperti Garut, Tasikmalaya, Sumedang, Ciamis, Bandung, dan sekitarnya dikenal pertandingan unik, adu kekuatan antara babi hutan dengan anjing, atau istilah orang Priangan disebut Adu Bagong.
Ngadu bagong adalah pertarungan hidup mati antara babi hutan dengan sekelompok anjing yang sudah diatur sedemikian rupa tata cara pertandingan, baik waktu, tempat, dan juga biaya. Memang tak ada yang tahu pasti, kapan adu bagong ini mulai ada. Tetapi yang jelas, adu bagong sudah lama menjadi hobi para pemilik anjing, untuk memperoleh kesenangan sembari melatih insting anjing piaran mereka.
Saking menariknya, permainan ini pun ada videonya. Dan yang cukup mencengangkan, film ngadu bagong yang dikemas dalam bentuk VCD/DVD ini ternyata sangat laku di pasaran.
Sebenarnya untuk wilayah Priangan Timur, baik Garut, Tasik, dan sekitarnya, sebenarnya tak mengenal tradisi ngadu bagong ini. Masyarakat di wilayah Priangan Timur yang dikenal sebagai daerah santri hanya dikenal "moro bagong", yakni berburu babi hutan yang dianggap sebagai hama pengganggu tanaman petani di kebun atau ladang.
Perburuan itu pun dilakukan dengan mengerahkan anjing untuk menggiring atau menangkap babi hutan tersebut. Dan jenis anjingnya pun bukandari ras khusus, melainkan anjing kampung yang dilatih berburu.
Tradisi berburu babi hutan itu biasa dilakukan masyarakat yang berada di perkebunan, perbukitan atau kawasan hutan. Di Garut lokasi perburuan babi hutan, yakni di Perkebunan sawit Condong, Cikelet, Gunung Guntur, Gunung Cikuray, Perkebunan teh, dan di beberapa tempat lainya.
Berdasarkan informasi, di Garut mulai digelar ngadu bagong, yakni di kawasan Garut Kota sekitar akhir tahun 60-an atau tepatnya di Kampung Jangkurang, Desa Sukamentri. Lalu, lokasi ngadu bagong berpindah-pindah tempat, seperti di Cibatu, Tarogong Kaler, Cikajang, Karangpawitan, dan di kecamatan lainya.
Namun arena ngadu bagong yang terlama terjadi di Kampung Cikancung, Kec. Cilawu.Di tempat itu ngadu bagong berlangsung hingga belasan tahun lamanya. Karena pada waktu itu yang menyelenggarakan ngadu bagong yakni kepala desa setempat.
Seiring dengan kemajuan zaman, ngadu bagong tersebut kini dijadikan lahan bisnis, baik bagi pemburu babi hutan, pemilik anjing, pemilik lahan, dan masyarakat sekitarnya. Bagi pemilik anjing, ngadu bagong juga merupakan ajang menunjukkan gengsi diantara para pemilik anjing.
Bila anjing mereka mampu menaklukkan bagong, harga anjing akan naik. Selain itu, kebanggaan sang pemilik pun bertambah karena penonton akan memuji anjingnya. Para pemilik anjing dalam suatu permainan ngadu bagong berperan sebagai peserta.
Untuk dapat melakukan peranannya dengan baik, maka mereka akan mempertarungkan anjing aduannya melawan bagong. Sementara pemilik arena dalam suatu permainan ngadu bagong berperan menyediakan berbagai fasilitas yang memungkinkan terselenggaranya permainan itu secara tertib, lancar, dan aman.
Untuk itu, ia harus menyediakan bagong dan orang-orang yang ditugasi untuk keamanan dan keteraturan permainan. Konsekwensinya adalah ia akan memperoleh keuntungan finansial dari berbagai pihak, baik pemilik anjing maupun penonton.
Karena untuk mengikuti permainan itu, pemilik anjing dan penonton mesti membayarnya. Sedangkan bagi masyarakat sekitar, keuntungan didapat dari jasa tukang parkir, penjual karcis, dan warung-warung makanan yang berada di lokasi itu.
Kegiatan ngadu bagong pun melibatkan perangkat desa yang ikut berperan sebagai petugas keamanan, biasanya yang dilibatkan yakni petugas hansip (pertahanan sipil). Namun begitu, terlepas apapun alasanya kegiatan tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa kegiatan adu bagong adalah kegiatan yang diharamkan.
"Dalam konteks agama, apapun yang namanya, adu-aduan itu jelas haram. Bukan hanya adu bagong," kata Ketua Umum MUI Kabupaten Garut Agus Muhammad Soleh.
Begitupun salah satu alasan pihak Kecamatan Cilawu yang tidak merekomendasikan kegiatan tersebut, yakni masalah hukum agama. Pihak MUI berharap masyarakat bisa terhindar dari perbuatan haram.
Kalaupun kegiatan itu salah satu upaya untuk mencari dana pembangunan sarana umum, mestinya bisa dicari dengan cara-cara yang halal, salah satunya dengan memberdayakan masyarakat melalui gotong royong. (Dindin Herdiana/"KP")***

Author : Moch. Ridwan Dibaca : 1266 kali
Sent using Telkomsel Mobile Internet Service powered by
Belom ada komentar pada artikel ini Kirim Komentar Anda

Kirim Komentar Anda



Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.